www.AlvinAdam.com


Warta 24 Indonesia

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

KPU Nilai Calon Tunggal Bisa Kurangi Potensi Konflik

Posted by On Februari 14, 2018

KPU Nilai Calon Tunggal Bisa Kurangi Potensi Konflik

KPU Nilai Calon Tunggal Bisa Kurangi Potensi Konflik

Mohammad Atik Fajardin

KPU Nilai Calon Tunggal Bisa Kurangi Potensi Konflik
Calon tunggal dinilai mengurangi potensi konflik dan beberapa daerah memiliki karakter yang berbeda. Ada daerah yang pernah mengalami sejarah kelam. (Foto/Ilustrasi/SINDOnews/Dok)
A+ A- JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Puncak menetapkan pasangan Willem Wandik dan Alus Murib sebagai calon bupati dan calon wakil bupati tunggal dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2018.
Penetapan itu berdasarkan berita acara rapat pleno penetapan pasangan calon bupati dan wakil bupati kabupaten puncak tahun 2018, nomor: 02/BA/KPU-PUNCAK/2018.
Dalam keputusan tersebut, pasangan Willem Wandik yang merupakan petahana dengan alus Murib dianggap telah memenuhi syarat menjadi peserta pilkada Kabupaten Puncak 2018.
"Ada 3 kabupaten yang meloloskan satu paslon itu yakni Kabupaten Jayawijaya, Mamberamo Tengah dan Kabupaten Puncak," kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua, Adam Arisoi usai Pleno Penetapan Paslon di KPU Provinsi Papua, Jayapura, Selasa (13/2/2018).
KPUD Kabupaten Puncak memutuskan hanya pasangan Petahana Bupati Puncak Willem Wandik yang berpasangan dengan Alus Uk Murib yang lolos verifikasi.
Menurutnya, saat pendaftaran KPUD Puncak sempat meloloskan pasangan Repinus Telenggen-David Ongomang dan sempat ada dukungan ganda dari partai politik (parpol). Namun saat diverifikasi ke pengurus pusat parpol, diketahui dukungan diberikan untuk petahana.
"Baru saja saya mendapat laporan dari Ketua KPUD Puncak, mereka sudah melakukan pleno penetapan paslon dan hanya satu pasangan yang lolos yakni pasangan Willem Wandik-Alus Uk Murib," kata Arisoi.
Menurut Willem Wandik, calon tunggal akan mengurangi potensi konflik di wilayah Puncak. Sebab, kabupaten di Pegunungan Papua tersebut memiliki karakter yang berbeda dengan wilayah lain.
"Meski kami sudah ditetapkan oleh KPUD menjadi calon tunggal, bukan berarti kami terus diam. Kami akan terus mempersiapkan yang terbaik bagi daerah Puncak, Papua, meski kami berhadapan dengan kotak kosong," ucap Wandik dalam keterangannya, Rabu (14/2/2018).
"Kami akan terus bekerja, bekerja, dan bekerja demi kesejahteraan masyarakat yang terisolasi, dan bekerja untuk mengurangi konflik yang ada, karena wilayah pegunungan tengah Papua itu unik dan indah, kami ingin semua aman dan damai," tambahnya.
Kabupaten Puncak pernah mengalami sejarah kelam saat pelaksanaan pilkada. Saat itu 51 warga tewas karena perang selama proses pilkada dalam kurun waktu dua tahun pada kisaran 2011-2013. Meski pilkada sudah selesai, suasana masih mencekam hingga awal 2015.
"Kotak kosong ini juga menurunkan potensi konflik antarpendukung yang terjadi di kabupaten kami. Pada pemilihan awal demokrasi Kabupaten Puncak bergulir, daerah kami sudah kehilangan 50 orang pahlawan demokrasi yang meninggal karena konflik pilkada," ucap Wandik.
Permasalahan 'perang saudara' itu kemudian diselesaikan secara adat. Pemkab Puncak harus membayar Rp1 miliar untuk per satu kepala korban meninggal. Pemda juga harus memfasilitasi tradisi bakar batu untuk mendamaikan kedua belah pihak. Biayanya juga sangat besar. Dana untuk bayar ganti rugi itu juga turut dibantu oleh pemerintah pusat. halaman ke-1 dari 2
  • 1
  • 2
Follow Us : Follow @SINDOnewsSumber: Google News | Warta 24 Mamberamo Tengah

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »