www.AlvinAdam.com


Warta 24 Indonesia

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Meringankan Petani Terdampak Bencana di Kulon Progo dan Bantul

Posted by On Februari 14, 2018

Meringankan Petani Terdampak Bencana di Kulon Progo dan Bantul

Hai sahabat Kumparan, kali ini kami akan mengulas tentang cuaca ekstrem yang sedang melanda di wilayah Indonesia. Dua Kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yakni Kulon Progo dan Bantul, yang terdampak siklon tropis Cempaka. Sebelum masuk kedalam inti cerita, mari kita ulas sedikit tentang Kabupaten Kulon Progo dan Bantul. Kabupaten Kulon ProgoNama Kulon Progo yang berarti sebelah barat Sungai Progo (kata kulon dalam Bahasa Jawa artinya barat). Kulon Progo adalah sebuah kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan ibukotanya adalah Wates. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul di timur, Samudra Hindia di selatan, Kabupaten Purworejo di barat, serta Kabupaten Magelang di utara.Kabupaten Kulon Progo memiliki topografi yang bervariasi dengan ketinggian antara 0 - 1000 meter di atas permukaan air laut, yang terbagi menjadi 3 wilayah meliputi : (i) Bag ian Utara: Merupakan dataran tinggi/perbukitan Menoreh dengan ketinggian antara 500 1000 meter di atas permukaan air laut, meliputi Kecamatan Girimulyo, Kokap, Kalibawang dan Samigaluh. Wilayah ini penggunaan tanah diperuntukkan sebagai kawasan budidaya konservasi dan merupakan kawasan rawan bencana tanah longsor; (ii) Bagian Tengah: Merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 100 500 meter di atas permukaan air laut, meliputi Kecamatan Nanggulan, Sentolo, Pengasih, dan sebagian Lendah, wilayah dengan lereng antara 2 15%, tergolong berombak dan bergelombang merupakan peralihan dataran rendah dan perbukitan; (iii) Bagian Selatan: Merupakan dataran rendah dengan ketinggian 0 100 meter di atas permukaan air laut, meliputi Kecamatan Temon, Wates, Panjatan, Galur, dan sebagian Lendah. Berdasarkan kemiringan lahan, memiliki lereng 0 2%, merupakan wilayah pantai sepanjang 24,9 km, apabila musim penghujan merupakan kawasan rawan bencana banjir.Sektor pertanian masih menjadi tumpuan perekonomian Kabupaten Kulon Progo. Penopang utama sektor pertanian adalah kategori pertanian, peternakan, perburuan dan jasa pertanian, yang memberikan kontribusi 16 persen dari total kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB. Komoditas utama dari Kabupaten Kulon Progo yaitu padi, kedelai, dan kacang tanah. Sedangkan, komoditas sayuran utama Kabupaten Kulon Progo yang menghasilkan produksi cukup besar yaitu tanaman cabe besar, petsai/sawi, serta bawang merah. Kabupaten BantulKabupaten Bantul adalah salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Ibukotanya adalah Bantul. Kabupaten ini berbatasan dengan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman di utara, Kabupaten Gunung Kidul di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Kulon Progo di barat. Selain mayoritas mata pencaharian penduduk Kabupaten Bantul di bidang pertanian (25 %), perdagangan (21 %), Industri (19 %) dan jasa (17 %). Di bagian Tengah Kabupaten Bantul, adalah daerah datar dan landai yang merupakan daerah per tanian yang subur seluas 210.94 km2 (41,62 %). Dalam hal ini, sektor pertanian menjadi salah satu penompang dalam meningkatkan perekonomian daerah.Dampak siklon tropis CempakaDampak dari siklus tropis Cempaka menyebabkan tersendatnya sektor pertanian khususnya di wilayah Kabupaten Kulon Progo dan Bantul. Berdasarkan catatan Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis, pada Senin (27/11) waktu lalu, terdeteksi siklon tropis yang tumbuh di perairan dekat pesisir selatan Pulau Jawa yang dinamai Cempaka. Hal ini kemudian memicu hujan lebat mulai dari wilayah Banten hingga Jawa Timur. Siklon tropis ini juga memicu angin kencang yang kecepatannya dapat mencapai 30 knot di berbagai wilayah termasuk peningkatan gelombang tinggi di beberapa perairan. Misalnya tinggi gelombang yang mencapai 1.25-2.5 meter terjadi di Kepulauan Nias, Selat Sunda Utara hingga laut Halmahera. Gelombang laut dengan ketinggian 2.5-4 meter berpeluang terjadi di perairan barat Aceh, Mentawai, Laut Cina Selatan hingga kepulau an Talaud. Potensi gelombang lainnya yaitu setinggi 4 meter hingga 6 meter yang berpotensi di Laut Andaman, Samudra Hindia di wilayah Aceh dan Bengkulu.

Curah hujan yang tinggi disertai angin kencang kemudian menyebabkan kerusakan baik karena disebabkan banjir, longsor hingga pohon yang tumbang akibat diterpa angin kencang. Berdasarkan informasi dari media online dan cetak, tercatat ribuan rumah, ribuan hektar lahan pertanian, dan fasilitas publik terendam banjir. Selain itu, aktivitas masyarakat lumpuh total di Wonogiri, sebagian daerah di Yogyakarta dan Pacitan. Jalan lintas selatan yang menghubungkan Wonogiri hingga Ponorogo juga lumpuh total karena tertutup longsor. Kerugian dan kerusakan ekonomi diperkirakan triliunan rupiah. Siklon tropis Cempaka bukanlah yang pertama terjadi di Indonesia. BMKG mencatat terjadi beberapa badai tropis sejak terbentuknya pusat peringatan dini siklon tropis (Tropic Siclon Warning Center/TSWC) Jakarta pada 2008: siklon tropis Durga, Anggrek, Bakung, Cempaka dan yang terbaru Dahlia. Melihat kondisi yang dialami oleh Yogyakarta, khususnya di daerah Kabupaten Kulon Progo dan Bantul, mendorong rasa empati dari PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk memberikan bantuan kepada korban bencana banjir di daerah tersebut.PT Pupuk Indonesia bersama dengan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan Pasar Murah Pupuk di Desa Cerme, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo, Sabtu (10/2). PT Pupuk Indonesia (Persero) akan memberikan bantuan pupuk kepada 1.431 petani di Kabupaten Kulon Progo dan Bantul. Bantuan tersebut diserahkan langsung Direktur SDM & Tata Kelola PT Pupuk Indonesia (Persero), Winardi kepada petani setempat, Sabtu (10/2) di Desa Cerme, Kecamatan Panjatan Kulon Progo.

“Pasar murah pupuk ini sebagai dukungan dan stimulan Pupuk Indonesia sebagai perusahaan holding BUMN, bersama anak perusahaannya, Pupuk Sriwidjaja, Pupuk Kalimantan Timur dan Petrokimia Gresik guna meringankan beban petani korban banjir yang mengalami kerugian akibat gagal panen atau puso, khususnya bantuan pupuk untuk pemupukan ulang untuk dapat melakukan penananam kembali,” kata VP PKBL PT Pupuk Indonesia Persero, Wahyu Supriyanto.Winardi menambahkan, dalam pasar murah ini petani dapat memperoleh pupuk non subsidi yang dapat dibeli dengan harga pupuk bersubsidi. “Harganya saat ini Rp4.400,- per kilogram, tetapi di pasar murah ini, para petani cukup membayar dengan harga Rp1.800,- per kilogramnya.” Tambahnya.Sebanyak 71,55 ton pupuk urea dijual dan disalurkan dalam pasar murah pupuk ini kepada petani, jumlah tersebut untuk petani yang tergabung dalam kelompok tani di dua Kabupa ten, untuk Kabupaten Kulon Progo, luas lahan yang rusak mencapai 406,25 hektar sehingga diperlukan 51,65 ton pupuk atau 1.033 sak pupuk urea. Sedangkan Kabupaten Bantul luas lahan yang terdampak 317,78 hektar dibutuhkan 19,9 ton atau sak pupuk urea.Pemberian bantuan ini sebagai upaya Pupuk Indonesia dalam mendorong produksi pertanian pasca gagal panen atau puso akibat bencana karena sawah dan padinya terendam banjir akibat siklon tropis Cempaka beberapa waktu lalu. Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Bantul merupakan daerah yang paling terdampak karena siklon tropis Cempaka. Bantuan pupuk non subsidi ini dirasakan manfaatnya oleh petani di Kabupaten Bantul dan Kulon Progo. Mari kita simak penuturan dari mereka yang sudah menerima bantuan pupuk di Pasar Pupuk Murah:Subandi, 66, salah seorang petani mengaku berterima kasih dengan bantuan pupuk murah. Dia mengakui, dampak badai Cempaka pada akhir tahun lalu membuat lahan pertanian di kelompok taninya rusak."Saya contohnya punya la han satu hektare. Biasanya bisa panen 8-10 ton, tapi kemarin hanya panen 2 kwintal," kata Ketua Kelompok Tani Makmur tersebut.

Hampir semua lahan pertanian padi di kelompok taninya yang seluas 42 hektare mengalami gagal panen. Akibatnya, sekitar 130 petani mengalami kerugian yang besar. (OL-6)Sejumlah petani pun cukup bersyukur dengan digelarnya pasar murah pupuk. Sala satunya Jumakir, 55, warga Padukuhan 9, Kelurahan Cerme, Kulon Progo. "Sejak ada banjir kemarin, baru ini ada bantuan pupuk," ucap Jumakir yang membeli satu sak pupuk Urea.Akibat badai yang terjadi, Jumakir mengaku tanaman padi di 2 bidang lahan miliknya mengalami kerusakan. Kerugian bisa mencapai lebih dari Rp 3 juta.Hal yang sama dirasakan petani lain di Kelurahan Cerme, Sumodiharjo, 65. Ia mengaku bencana yang dialami itu menga kibatkan kerugian sampai lebih dari Rp 10 juta. Pupuk yang dibeli sama-sama harganya sebesar Rp 90 ribu per satu saknya. "Tapi pupuk bantuan ini kualitasnya lebih bagus dari pada yang dijual di toko-toko," klaimnya.Sedikitnya 724,03 hektar tanaman padi sawah di Kecamatan Galur, Panjatan, dan Lendah di Kabupaten Kulon Progo dan kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami gagal panen. “Semoga dengan bantuan ini, bisa bermanfaat untuk meningkatkan produksinya, sehingga kesejahteraan para petani dapat meningkat,” tutup Wahyu Supriyanto.#PasarMurahPupuk #PupukIndonesia #petani #petanisejahtera #PasarMurah #PupukMurahIkuti terus informasi mengenai Pupuk Indonesia dengan mengikuti akun social media Kami.IG: @pt.pupukindonesiaTwitter: @pupuk_indonesiaFB: PT Pupuk IndonesiaSumber: Google News | Warta 24 Kepulauan Talaud

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »