Kirim Warta Nasional: Klik Disini | Konfirmasi Warta Nasional: Klik Disini

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Charcoal for Children menumbuhkan kreativitas anak dengan arang

Posted by On Februari 17, 2018

Charcoal for Children menumbuhkan kreativitas anak dengan arang

Jarum jam menunjukkan angka 18.53 WITA saat Monez dan Ninus bersama Anak-Anak Pegunungan Bintang, Papua, berkolaborasi menyuguhkan pertunjukan berjudul "Sang Kala" di CushCush Gallery, Denpasar, Bali, Jumat (2/2/2018).

Pementasan kolaborasi antara desain grafis dan seni tari itu merupakan bagian dari rangkaian program Charcoal for Children 2017/2018 yang mengusung tema "PlayPlay".

Mula-mula penonton yang berjumlah tak lebih dari 50 orang dihadapkan pada visual bagian-bagian bangun ruang berbentuk kubus, balok, limas, dan lingkaran yang tampak melayang di permukaan latar.

Belum lama elemen visual dalam suasana ruangan yang temaram mengolah persepsi, pandangan penonton beralih ke arah latar tempat pertunjukan yang memunculkan nuansa perpaduan warna berkarakter psikedelik.

Seolah-olah berkomunikasi secara visual, anak-anak berlarian menghampiri latar. Sepeliuk gerakan tubuh, masing-masing anak menghadapkan telapak tangan ke latar.

Perlahan muncul lintasan di antara warna-warni mengikuti ayunan tangan mereka diikuti kemunculan Ninus di antara penonton.

Pandangan penonton tenang menatap tariannya. Irama musik yang berkesan ceria terasa lenyap di pendengaran berganti dengan bunyi gerakan jarum jam.

Kemudian tangan kanan Ninus merentang. Bagaikan hanyut dalam perjalanan waktu, rentangan tangan kanan Ninus bergerak seperti jarum jam.

Tarian itu hanya sebentar saja membetahkan pandangan penonton. Tak lama, latar visual kembali mengalihkan fokus penonton.

Visualisasi jam muncul di belakang Ninus, seolah-olah meleleh, unsur lingkaran mengecil bergerak semakin ke sudut ruangan.

Wajah Ninus yang semula tenang dalam tarian mendadak tampak gelisah. Tangannya meronta-ronta, langkah kakinya bergerak mundur terseret arus visualisasi. Ia lenyap dari ruang pementasan.

Anak-anak kembali muncul. Berbeda dari mula pementasan, kini wajah anak-anak itu ditutupi topeng berkarakter monster.

Visualisasi yang menampilkan masing-masing karakter monster melekat di latar menyelipkan pandangan penonton di antara anak-anak itu.

Di antara temaram suasana ruangan visualisasi jam kembali muncul. Jarum pendek jam itu menunjuk angka enam.

Sedangkan jarum panjang mengarah ke angka 12. Perlahan-lahan cahaya lampu semakin terang menguasai ruangan.

Bunyi tepuk tangan penonton mengakhiri pementasan Monez dan Ninus bersama Anak-Anak Pegunungan Bintang yang memadukan seni dua dimensi dan tiga dimensi.

Pementasan "Sang Kala" berisi kolaborasi antara  Monez dan Ninus bersama Anak-Anak Pegunungan Bintang Papua
Pementasan "Sang Kala" berisi kolaborasi antara Monez dan Ninu s bersama Anak-Anak Pegunungan Bintang Papua | Charcoal for Children/CushCush Gallery/Istimewa

Pementasan "Sang Kala" berlatar belakang mitos masyarakat Bali tentang waktu-waktu tertentu yang terlarang bagi anak-anak untuk ke luar rumah atau ke tempat tertentu, yaitu pagi (subuh), siang (pukul 12.00), dan petang (pukul 18.00).

Dalam mitos yang berkembang di masyarakat Bali, tiga waktu tadi merupakan jatah bagi segala yang tidak terlihat (memedi atau wong samar) melakukan aktivitas.

Segala aras antara alam manusia dan alam bawah terbuka tanpa pintu yang dapat memerangkap siapa saja.

"Cerita rakyat Bali ada penguasa dalam setiap bagian waktu," tutur Monez, ilustrator yang menempuh pendidikan desain grafis di Institut Seni Indonesia, Denpasar.

Pementasan "Sang Kala" berlangsung selama 30 menit. Dua seniman berbeda aliran itu menceritakan seorang anak ya ng lupa waktu, kemudian lesap karena masuk dalam dimensi monster.

Cerita itu menyemai pesan untuk memperbaiki kebiasaan buruk agar menghargai waktu.

"Mitos juga nasihat. Ini menarik untuk ide cerita pementasan," kata Monez yang berprofesi sebagai desainer grafis.

Monez berusaha mengolah pementasan yang menyenangkan serta memberikan kesan mendalam.

Tidak hanya bagi penonton, tapi bagi anak-anak yang terlibat dalam pementasan. "Temukan wujud monster mereka sendiri dari coretan-coretan charcoal (arang)," ujarnya.

Dilanjutkan Monez, kegiatan itu bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak untuk menuangkan idenya.

Ia pun selalu tertarik melakukan kegiatan yang melibatkan anak-anak karena imajinasi tumbuh dalam pikiran yang polos.

Contohnya ketika anak-anak melukis dengan arang untuk membentuk karakter monster dalam topeng. "Saya pikir anak-anak adalah golongan umur yang penuh kejujuran dalam sikap maupun p ikirannya," tuturnya.

Adapun Ninus yang aslinya bernama Adhika Annissa menyukai eksplorasi ruang, gerak, dan musik sehingga memantapkan pilihan menggeluti seni tari.

"Kolaborasi dengan desainer grafis, kenapa enggak? Lumayan deg-degan. Kami berharap bisa having fun," ujar perempuan yang juga seorang arsitek itu.

Pementasan Papermoon Puppet yang berjudul "Dunia Putih Siwa dan Malini" dalam program Charcoal for Children di CushCush Gallery, Jumat (2/2/2018)
Pementasan Papermoon Puppet yang berjudul "Dunia Putih Siwa dan Malini" dalam program Charcoal for Children di CushCush Gallery, Jumat (2/2/2018) | Charcoal for Children/CushCush Gallery/Istimewa

Seperti namanya, anak-anak yang mengikuti program Charcoal for Children menggunakan arang sebagai alat untuk membuat karya. Penggagasnya adalah Reno Ganesha.

Reno telah mendalami dan bereksplorasi membuat arang gambar ketika mengambil jurusan seni rupa di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Australia.

Arang gambar yang digunakan terbuat dari limbah kayu asli Indonesia, seperti kayu jati, suar, pinus dan kamper.

Alasannya untuk meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan dengan mengolah material sisa menjadi barang berguna dalam keseharian melalui proses kreatif dan desain.

"Ini bentuk kontribusi kami terhadap lingkungan," ujar Sagung Alit Satyari, Asisten Manajer CushCush Gallery, dalam laman balebengong.id.

Penyelenggaraan tahun ini merupakan yang kedua kalinya. Kurun 2016/2017 telah berlangsung kegiatan serupa di tempat sama yang melibatkan 6 seniman, 35 relawan, dan 103 anak-anak dari berbagai sekolah dan organisasi di Bali.

Selain duo Monez dan Ninus a sal Bali, pementasan juga diisi oleh kelompok seniman Papermoon Puppet (Yogyakarta) dan Kawamura Koheisai (Tokyo, Jepang). Semua pementasan berlangsung di CushCush Gallery.

Dalam konferensi pers, Suriawati Qiu, kurator sekaligus pemilik CushCush Gallery, mengharapkan kegiatan Charcoal for Children semakin menggali dan membuka kreatifitas anak-anak.

Pasalnya dalam program ini seluruh peserta akan dipertemukan dengan komunitas-komunitas kreatif dan seniman lintas generasi untuk berkolaborasi dalam sebuah pertunjukan seni.

Waktu pementasan terbagi dalam dua pekan. Pekan pertama berlangsung kurun 2-4 Februari 2018. Sedangkan pementasan pekan kedua berlangsung 23-25 Februari 2018.

Monez dan Ninus serta Papermoon Puppet melangsungkan pementasan utama alias premier pada pekan pertama (2/2).

Adapun pementasan utama Kawamura Koheisai yang bertajuk "Monyet Nishioka Mencari Pulau Baru" diadakan pada 23 Februari.

Sebelum hari pementasan tiba, anak -anak telah mengikuti lokakarya yang berlangsung kurun September hingga November 2017.

Tiga kelompok seniman yang tampil berinteraksi langsung bersama anak-anak. Tentu saja dengan metode kreativitas yang berbeda.

Monez dan Ninuz yang memberikan sesi lokakarya pada 18 November 2017 misalnya. Mereka menggunakan musik sebagai penggerak anak-anak bereksperimen.

Setiap tubuh meliuk menikmati alunan musik, kedua tangan yang menggenggam arang bebas mencoretkannya di sepanjang kertas putih untuk menggambar bebas.

Para penonton berselubung kain putih saat menyaksikan pementasan Papermoon Puppet yang berjudul "Dunia Putih Siwa dan Malini"
Para penonton berselubung kain putih saat menyaksikan pementasan Papermoon Puppet yang berjudul "Dunia Putih Siwa dan Malini" | Charcoal for Children/CushCush Gallery/Istimewa

Beda lagi ketika Papermoon Puppet yang menjadi mentor. Anak-anak diminta membuat pohon dan boneka menggunakan kayu arang, tinta arang, serta barang-barang bekas dari sisa kayu dan kertas koran.

Tiba saatnya pementasan hasil lokakarya berlangsung. Puluhan penonton duduk berjejer memanjang di sisi ruang pementasan.

Mimik dan gerak masing-masing seniman Papermoon Puppet yang berpakaian serba putih menghibur penonton.

Wayang mini di antaranya berbentuk singa dan peri bergerak bersama liuk tangan. Kejenakaan masih membungkus suasana.

Selanjutnya muncul tokoh yang digambarkan seorang kakek. Boneka burung berwarna-warni menclok di kepala penonton.

Maria Tri Sulistyani alias Ria Papermoon yang menggerakkan boneka burung itu. Setelah berjalan melewati barisan penonton, boneka burung semakin dekat dengan tokoh kakek.

Suasana terasa beru bah ketika muncul dua topeng berkarakter rupa muka agak ambigu yang disertai kain putih membungkus sang kakek.

Pencahayaan lampu yang semula terang perlahan meredup. Gelap menyelimuti. Sesaat gelap merangkul, suasana kembali terang.

Ria menggenggam cangkir, ia tampak sedang menikmati minuman. Tiba-tiba boneka kakek tadi mengesankan kemarahan.

Ia muncul dengan peran galak. Raut muka Ria heran, seakan-akan bertanya. Ria melepaskan genggamannya dari cangkir itu. Kemudian, muncul cangkir putih.

Agaknya sang kakek ogah menerima benda apa pun di hadapannya yang berwarna selain putih. Ria berjalan di antara penonton, ia mengambil sepatu.

Kakek mengganti sepatu itu menjadi model yang berbeda, berukuran gantungan kunci yang juga berwarna putih.

Boneka kakek yang memegang tongkat seperti tak puas. Ia terlihat mengomel. Ria berjalan mengambil beberapa tas penonton yang bukan berwana putih.

Seakan-akan merasa dipanggil oleh kakek itu, Ria menoleh. Ia mengembalikan semua tas penonton.

Ria membagikan kain putih kepada penonton yang tidak berpakaian warna senada.

Ayunan tangan Ria dan tatapan mata Ria mengisyaratkan para penonton untuk masuk ke dalam ruang pementasan.

Barisan orang-orang berselubung kain putih berpindah. Peran penonton ikut mengentalkan pementasan Papermoon Puppet yang berjudul "Dunia Putih Siwa dan Malini".

Pesan cerita melekat saat awal sebelum memasuki ruangan. Meskipun demikian, bukan lantas menjenuhkan para penonton.

Ria memenuhi harapannya agar pementasan Papermoon Puppet tidak berjarak dengan para penonton.

Pementasan Papermoon Puppet menggabungkan seni boneka, bayangan, musik, dan teater.

Pementasan itu menceritakan sebuah tempat yang semua unsurnya harus dalam satu warna, putih.

Kakek tua bernama Siwa menjadi tokoh utama yang mendominasi keharusan menjadi putih.

Adapun anak kecil bernama Malini menyukai keindahan warna-warni. Boneka burun g dilambangkan sebagai kebebasan.

Menurut Ria naskah yang ia tulis menggambarkan kegelisahan manusia. "Ada tragedi besar ketika harus menjadi putih, padahal semua warna-warni," tutur Ria.

Ihwal keterlibatan penonton yang menghidupkan cerita dalam pementasan, menurut Ria interaksi itu memberikan sentuhan rasa.

Pendiri CushCush Gallery, Suriawati Qiu, menjelaskan tema PlayPlay bermakna untuk merawat memori anak-anak untuk masa depan.

"Kami merasa perlu berbagi dengan membekali pendidikan yang bagus," tuturnya. Menurut dia, anak-anak perlu mengisi masanya dengan pendidikan kreatif.

"Berbagi cerita yang membuat anak-anak bisa senang bertemu dengan orang-orang," tambah Suriawati.

Harga tiket tanda masuk pertunjukan di CushCush Gallery seharga Rp500 ribu (termasuk minuman) untuk pementasan utama.

Pementasan reguler dibanderol Rp100 ribu. Agar pengalaman menonton lebih intim dan memuaskan, setiap pementasan dibatas i hanya 50 orang.

Sebanyak 50% dari hasil penjualan tiket akan di salurkan untuk mendukung program kreatif Charcoal for Children berikutnya.

Sumber: Google News | Warta 24 Pegunungan Bintang

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »