Kirim Warta Nasional: Klik Disini | Konfirmasi Warta Nasional: Klik Disini

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Benarkah Mitos Nanas dan Mentimun Bikin Perempuan Indonesia ...

Posted by On Juni 16, 2018

Benarkah Mitos Nanas dan Mentimun Bikin Perempuan Indonesia ...

Nanas Madu dari Kecamatan Belik, Kabupaten PemalangKompas.com/Nazar Nurdin Nanas Madu dari Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang

KOMPAS.com - Penelitian organisasi lembaga sosial Girl Effect dan Nutrition Internation menemukan menemukan banyak remaja Indonesia yang tidak memahami konsep gizi untuk kebaikan tubuh.

Adanya "aturan" yang tidak menganjurkan remaja putri makan makanan tertentu justru membuat mereka kekurangan gizi sehingga terhambat pertumbuhannya.

"Berdasarkan penelitian kami, nutrisi adalah konsep yang sangat abstrak bagi banyak remaja perempuan di Indonesia. Dan m ereka tidak bisa melihat relevansinya terhadap kehidupan sehari-hari," kata Kecia Bertermann dari Girl Effect.

"Kesehatan bagi mereka adalah sesuatu yang berkaitan dengan kegembiraan, aktif, awas, dan tidak sakit. Mereka makan hanya agar kenyang dan sangat bergantung pada jajanan kecil yang kebanyakan makanan olahan," imbuh Kecia.

Baca juga: Awas Stunting, Orangtua Wajib Amati Kenaikan Berat Badan Anak

Kedua organisasi melakukan penelitian kualitatif pada 36 perempuan berusia 14 sampai 16 tahun di Jakarta pada bulan Oktober sampai November 2017. Mereka juga berbicara dengan tokoh masyarakat dan para orang tua.

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah kuatnya kepercayaan akan tabu makanan tertentu di kalangan remaja putri yang berdampak tubuh tidak mendapat asupan cukup gizi.

"Misalnya keyakinan tentang makan terlalu banyak mentimun dapat menyebabkan keputihan, makan nanas dapat menyebabk an sulit hamil, makanan pedas dapat menyebabkan ibu yang menyusui menghasilkan susu pedas," Kecia menjelaskan.

Penelitian ini bukanlah yang pertama kali membahas dampak mitos makanan tertentu terhadap kesehatan tubuh.

Sebelumnya, UNICEF bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Indonesia pernah membuat penelitian serupa dengan objek remaja laki-laki dan perempuan di Indonesia berusia13 sampai 18 tahun pada 2017, salah satunya di Lombok.

Dari penelitian keadaan nutrisi pada remaja ini, mereka menemukan pandangan tabu makanan lebih banyak dialami remaja putri.

"Kebanyakan tabu makanan dan juga persepsi yang mempengaruhi kegiatan fisik hanya diterapkan remaja putri," kata Dr Jee Hyung Rah, ahli nutrisi UNICEF yang berkantor di Jakarta.

Meski dua penelitian besar menunjukkan tabu makanan picu remaja putri Indonesia kekurangan gizi, sejumlah pihak merasa hal ini bukan satu-satunya alasan.

"Kita lihat bagaimana akses mereka terhad ap makanan khususnya pada daerah-daerah pedesaan, masalah ekonomi juga bisa membuat akses terhadap pangan terbatas," kata Prof Dr Evy Damayanthi, ahli gizi dan pangan dari IPB.

Prof Evy menambahkan, banyak remaja putri mengalami stunting atau kekurangan gizi kronis sejak masih balita.

Baca juga: Indonesia Darurat Konsumsi Tembakau, Ini Himbauan Para Pakar

Kegiatan fisik dan pendidikan

Selain kebiasaan makan, UNICEF memandang kegiatan fisik juga penting. Pihaknya menilai kebanyakan perempuan yang masih remaja kurang beraktivitas dibanding laki-laki.

"Faktor penyebab terjadinya malnutrisi ganda tak hanya disebabkan kebiasaan makan. Di saat yang sama juga dipicu kegiatan fisik," kata Dr Jee dari UNICEF.

"Penelitian kami menunjukkan, jenis kelamin tidak hanya memengaruhi asupan remaja tetapi juga memengaruhi kegiatan fisik," jelasnya.

Dalam penelitian UNICEF 2017 sila m, pihaknya menemukan 10 persen remaja terlalu kurus atau indeks massa tubuhnya rendah, sementara 10 persen lainnya justru kelebihan berat badan.

Salah satu pihak yang dipandang paling bertanggung jawab dalam mengatasi masalah kekurangan gizi ini adalah pemerintah, terutama terkait dengan pendidikan gizi yang seharusnya sudah dimulai sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

"Masalah kebiasaan ini berawal dari masa sebelum-sebelumnya, yakni sejak bangku sekolah. Kalau saya boleh menyarankan, kebijakan pemerintah (terkait masalah kurang gizi) sudah dimulai sejak masih anak-anak," kata Profesor Evy.

"Jadi kalau pendidikan gizi dimulai tidak hanya sekedar makan makanan yang baik tetapi juga bagaimana cara mengonsumsinya buat anak-anak, kemudian kenapa itu harus penting," tambahnya.

Aplikasi untuk remaja

Girl Effect dan Nutrition International telah meluncurkan penyebaran informasi tentang gizi kepada remaja perempuan l ewat aplikasi Springster sejak tahun 2015 di 66 negara termasuk Indonesia.

Sampai sejauh ini pemakainya terus meningkat, sudah mencapai lebih 2,4 juta remaja yang diperkirakan meningkat dua kalinya pada bulan Mei 2019.

"Platform ini sudah memberikan pengetahuan, ketahanan dan keyakinan diri, serta mengatasi masalah mereka, persoalan kesehatan secara umum, menstruasi, dan pubertas. Lewat kerja sama ini kami ingin menggunakan kekuatan telepon genggam untuk masyarakat," tutur Kecia.

"Ini adalah cara yang sangat kuat untuk mencapai remaja perempuan guna menyampaikan informasi baru tentang nutrisi dan kesehatan," tegasnya.

Baca juga: Apakah Gizi Buruk Sebabkan Otot Lemah dan Tak Bisa Berjalan?

Aplikasi kemungkinan bisa efektif di masyarakat seperti Indonesia karena tingginya paparan terhadap internet tetapi yang tetap perlu diperhatikan juga adalah bagaimana menjalankannya.

"Selain content , tentunya adalah pendekatan langsung yang bersifat interaktif akan lebih bermanfaat buat mereka. Apa persoalan mereka, bagaimana solusinya. Persoalannya adalah ini kan harus di maintain yah, harus ada adminnya. Kelihatannya disukai karena ada games-nya juga. Kendalanya adalah harus ada admin yang terus menerus bisa memantau, kemudian menjawab," kata Evy.


Berita Terkait

Apakah Gizi Buruk Sebabkan Otot Lemah dan Tak Bisa Berjalan?

Profesor Asal Indonesia Raih Bintang Penghargaan dari Australia

Indonesia Darurat Konsumsi Tembakau, Ini Himbauan Para Pakar

Soal Tong Sampah Jerman, Ini Beda Pengelolaannya dengan Indonesia

Terkini Lainnya

Mengenal Ular Sanca Batik, Predator yang Makan Manusia di Sulawesi

Mengenal Ular Sanca Batik, Predator yang Makan Manusia di Sulawesi

Oh Begitu 16/06/2018, 17:23 WIB Penghormatan bagi Stephen Hawking, Suaranya Dikirim ke Lubang Hitam

Penghormatan bagi Stephen Hawking, Suaranya Dikirim ke Lubang Hitam

Fenomena 16/06/2018, 17:06 WIB Benarkah Mitos Nanas dan Mentimun Bikin Perempuan Indonesia Stunting

Benarkah Mitos Nanas dan Mentimun Bikin Perempuan Indonesia Stunti ng

Kita 16/06/2018, 13:33 WIB Nelayan di China Tangkap Ikan Berkepala Burung, Apa Itu?

Nelayan di China Tangkap Ikan Berkepala Burung, Apa Itu?

Fenomena 15/06/2018, 20:47 WIB Ahli Ungkap Rahasia Tanjakan di Bukit yang 'Melawan' Gravitasi

Ahli Ungkap Rahasia Tanjakan di Bukit yang "Melawan" Gravitasi

Oh Begitu 15/06/2018, 20:05 WIB Seberapa Sering Anda Harus Membersihkan Ponsel dari Bakteri?

Seberapa Sering Anda Harus Membersihkan Ponsel dari Bakteri?

Kita 15/06/2018, 19:06 WIB Viral Video Rakun Panjat Gedung Setinggi 23 Lantai, Bagaimana Bisa?

Viral Video Rakun Panjat Gedung Setinggi 23 Lantai, Bagaimana Bisa?

Fenomena 15/06/2018, 18:42 WIB Bukan BMI, Ini Cara yang Lebih Baik untuk Tahu Risiko Kesehatan Anda

Bukan BMI, Ini Cara yang Lebih Baik untuk Tahu Risiko Kesehatan Anda

Kita 15/06/2018, 18:06 WIB Bukan Kadal atau Tikus, Lima Spesies Ular Ini Lebih Suka Makan Siput

Bukan Kadal atau Tikus, Lima Spesies Ular Ini Lebih Suka Makan Siput

Fenomen a 15/06/2018, 17:33 WIB Tangkal 'Cyber-bullying', Sistem Baru Ini Lebih Cepat dan Akurat

Tangkal "Cyber-bullying", Sistem Baru Ini Lebih Cepat dan Akurat

Kita 15/06/2018, 17:09 WIB 3 Triliun Ton Es di Antartika Mencair dalam 25 Tahun, Apa Dampaknya?

3 Triliun Ton Es di Antartika Mencair dalam 25 Tahun, Apa Dampaknya?

Fenomena 15/06/2018, 13:47 WIB Lawan Diabetes, Para Ilmuwan Kembangkan Bedah Bariatrik Berbentuk Pil

Lawan Diabetes, Para Ilmuwan Kembangkan Bedah Bariatrik Berbentuk Pil

Kita 14 /06/2018, 20:05 WIB Kasus Langka, Wanita Buta Ini Dapat Melihat Objek Bergerak

Kasus Langka, Wanita Buta Ini Dapat Melihat Objek Bergerak

Oh Begitu 14/06/2018, 19:37 WIB NASA Ketar-ketir, Robot Penjelajah Opportunity Diduga Mati di Mars

NASA Ketar-ketir, Robot Penjelajah Opportunity Diduga Mati di Mars

Fenomena 14/06/2018, 17:07 WIB Gempa Sumenep Bantah Mitos Tentang Pulau Madura

Gempa Sumenep Bantah Mitos Tentang Pulau Madura

Oh Begitu 14/06/2018, 13:25 WIB Load MoreSumber: Google News Network: Liputan 24 Indonesia | Berita 24 Indonesia | Warta 24 Indonesia

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »