Page Nav

HIDE

Gradient Skin

Gradient_Skin

Pages

Responsive Ad

Tentang Kasus Kekerasan Pada Siswi SMP Di Pontianak, Kopri PMII Komfuspertum Angkat Suara

Warta24-- Semakin hari kekerasan seksual semakain merajalela dan pada kebanyakan kasus ini terjadi pada perempuan dan anak. Terkhusus pa...

Warta24--Semakin hari kekerasan seksual semakain merajalela dan pada kebanyakan kasus ini terjadi pada perempuan dan anak. Terkhusus pada perempuan, perempuan yang paling rentan sekali mengalami kekerasaan seksual. Di tengah diskusi tentang kekerasan seksual yang semakin marak, termasuk rencana pemerintah memperberat hukuman bagi pelakunya, kasus kekerasan seksual terus bermunculan.

Saat ini masyarakat indonesia sedang berduka dengan adanya kasus penganiayaan terhadap siswi SMP berumur 14 tahun oleh 12 siswi SMA di Pontianak. Tragedy ini bukan lagi  sekedar kekeran dan bullying tapi sudah masuk ranah kriminal.

Tragedi ini terjadi pada awal maret, namun tragedi in barui terungkap pada bulan april pasca korban melapor pada orangtuanya. Diduga korban tidak berani cepat melapor dikarnakan adanya tekanan dari pelaku, jika korban melapor maka si pelaku akan melakukan hal yang lebih dari pada itu.

“hal yang wajar bila korban tidak mempunyai keberanian untuk langsung melapor, karna sangat dipastikan sekali setelah peristiwa itu, korban tidak hanya mengalami rasa sakit atas tindakan criminal 12 pelaku itu, juga pasti mengalami depresi dan trauma yang berlebih”. Ujar rismawati.

Disamping itu, Rismawati juga mengatakan bahwa kasus ini ada kaitan dengan krisis moral pada anak. Yang mana peran keluarga terkhusus orang tua sangatlah penting dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak dalam ranah domestik. Selain dari pada itudalam dunia pendidikan rismawati berkata bahwa perlu adanya pendidikan moral dan akhlak di sekolah-sekolah umum untuk membentengi pergaulan anak.

“ini bukan kasus biasa, tapi ini merupakan kasus yang serius, ada beberapa faktor yang menyebabkan hadirnya peristiwa yg tidak manusiawi  yaitu peran keluarga dan guru dalam mendidik anak, saya kira jika orang tua membekali anaknya sejak dini dengan moral dan akhlak yang baik kemungkinan hal ni tidak akan terjadi. Dalam dunia pendididkian di sekolah umum pelajaran agama hanya dua jam dalam satu minggu dan itupun dicampur dengan bahasa arab dan lain-lain.S Seharusnyaada kelas khusus atau pendidikan khus akhlaq di sekolah umum” Jelas Risma.

 kasus yang tidak bisa di sebut kasus ringan ini harus diusut tuntas tanpa memandang status sosial terlebih kata damai. Hal ini dilakukan untuk memberikan efek jera bagi pelaku, tak lupa hal ini harus menjadi perhatian bagi pemerintah.

“saya berharap kasus ini di usut tuntas tanpa alasan apapun. Entah itu pelaku masih dibawah umur sehingga di bebaskan, atau karna status sosialnya dia anak pejabat dan sebagainya saya tiddak peduli harapan besar saya kasus ini di adili dengan seadil adilnya. Harusnya pemerintah lebih peka terhadap kasus-kasus seperti ini. Kami juga berharap kepada pemerintah untuk dapat menciptakan system hukum yang mampu mengakomodasi ragam situasi kekerasan seksual yang terjadi dilapangan” Tegas Risma.

Selain itu,  Rismawati selaku KOPRI PMII KOMFUSPERTUM juga  mengemukakan beberapa tuntutan dalam kalimat penutupnya.

“kami menuntut pemerintah untuk memenuhi hak pemulihan Audrey dan hukuman atas pelaku. Yaitu kepolisian harus mengadili pelaku sesuai hukum yang berlaku, melakukan rehabilitas pada si pelaku sebagai individu di bawah umur agar tidak melakukan kekerasan lagi dimasa yang akan datang, menghormati hak mereka untuk menuntaskan pendidikannya, menuntut masyarakat untuk berhenti memandang kenakalan remaja menjadi hal yang biasa. Besar harapan kami kepada pemerintah untuk memperhatiakn dan menindak lanjuti hal ini”. tuntutnya.

Hari gini masih pusing biaya kuliah mahal? Yu raih kesempatan beasiswa disini

Penulis: Yani Suryani
Gambar : Rismawati
Sumber : Rismawati

Reponsive Ads