Page Nav

HIDE

Gradient Skin

Gradient_Skin

Pages

Responsive Ad

Mudah Dan Murahnya Telur Untuk Mengatasi Stunting

Stunting merupakan isu yang pada saat ini menjadi fokus bagi pemerintah, selain masalah kesehatan Angka Kematian Ibu (AKI) /Angka Kematian...

Stunting merupakan isu yang pada saat ini menjadi fokus bagi pemerintah, selain masalah kesehatan Angka Kematian Ibu (AKI) /Angka Kematian Neonatal (AKN) yang masih tinggi, tuberculosis (TBC), penyakit tidak menular (PTM), dan cakupan serta mutu imunisasi dasar lengkap (Rakernas 2019). Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Salah satu asupan gizi yang penting bagi pertumbuhan anak adalah asupan protein. Bahkan, bayi dan anak-anak yang berada dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan yang pesat membutuhkan protein lebih banyak per kilogram berat badannya dibandingkan dengan orang dewasa.

Banyak sekali makanan sumber protein, salah satunya sumber protein hewani yang paling murah dan mudah didapat dibandingkan sumber protein hewani lainnya adalah telur. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang belum mampu untuk membeli/mengonsumsinya. Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi? Bagaimanakah produksi telur di Indonesia, apakah sudah mampu memenuhi dan bagaimana dengan fluktuasi harganya?

Berdasarkan data BPS, secara nasional produksi telur ayam ras di Indonesia sejak tahun 2009 hingga 2018 mengalami peningkatan. Peningkatan produksi telur terbesar terjadi pada 2015 yaitu sebesar 10,33% dari tahun sebelumnya dan secara rata-rata peningkatan produksi telur sebesar 7,28% per tahun, dimana pada tahun 2009 sebesar 0,90 juta ton dan terus meningkat hingga pada tahun 2018 produksi telur ayam ras domestik mencapai 1,64 juta ton meningkat 9,18% dari tahun sebelumnya, yaitu 1,51 juta ton.

Sedangkan secara nasional, perkembangan konsumsi telur ayam ras di Indonesia selama tahun 2008-2017 mengalami peningkatan sebesar 1,04% per tahun. Konsumsi telur ayam ras di tahun 2008 sebesar 2,77 kg/kap/th dan mengalami peningkatan hingga 6,65 kg/kap/th pada tahun 2017. Jika diperkirakan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 264 juta pada tahun 2017, maka besar konsumsi telur ayam keseluruhan secara nasional adalah 1,76 juta ton, sedangkan produksi telur ayam ras domestik hanya sebesar 1,51 juta ton akibatnya terjadi kekurangan suplai telur sehingga untuk memenuhinya perlu dilakukan impor. Meski begitu, tingkat konsumsi telur ayam di Indonesia yaitu sebesar 6,65 kg/kapita/tahun masih jauh lebih rendah dibandingkan tingkat konsumsi telur ayam di negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Berdasarkan data konsumen perkotaan Kementerian Perdagangan, selama periode 2016-2018, harga telur ayam ras di tingkat konsumen cenderung mengalami fluktuasi dan peningkatan. Pada tahun 2016, harga telur ayam ras terendah terjadi pada bulan November yaitu sebesar Rp.21.914-/kg dan harga tertinggi terjadi pada bulan Januari yaitu sebesar Rp.25.614-/kg dengan rata-rata harga sebesar Rp.23.384,-/kg. Tahun 2017, harga telur ayam ras terendah terjadi pada bulan April yaitu sebesar Rp.21.773,-/kg dan harga tertinggi terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar Rp.25.088,-/kg dengan rata-rata harga sebesar Rp.22.844,-/kg. Sedangkan, tahun 2018, harga telur terendah terjadi pada bulan Maret yaitu sebesar Rp.22.700,-/kg dan harga tertinggi terjadi di bulan Juli yaitu sebesar Rp.26.650,-/kg dengan rata-rata harga sebesar Rp.24.415,-/kg yang dihitung hanya sampai bulan Oktober 2018. Selama tiga tahun terakhir, harga telur ayam ras terendah terjadi pada bulan April 2017 dan tertinggi terjadi pada bulan Juli 2018.

Selain karena kurangnya suplai telur di pasaran, faktor lain yang mempengaruhi terjadinya fluktuasi dan kenaikan harga telur adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Hal itu dapat memengaruhi karena melemahnya rupiah membuat harga pakan ayam menjadi lebih mahal, lantaran banyak jenis pakan ayam seperti bungkil kedelai, tepung daging, dan tepung tulang yang masih impor, sehingga sekalipun produksi telur ayam ras nasional sudah mampu memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri, harga telur ayam tetap dapat berpotensi mengalami fluktuasi dan kenaikan akibat nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat.  

Dalam menangani permasalahan stunting perlu adanya dukungan dari berbagai sektor, tidak hanya dari sektor kesehatan saja. Perhatian dari berbagai sektor pemerintahan untuk mewujudkan kemudahan dan ketersediaan pasokan telur ayam, misalnya dengan meningkatkan faktor-faktor pendukung produktivitas telur ayam, dan harga telur yang terjangkau, misalnya adanya subsidi harga pangan, sangat diperlukan agar berbagai lapisan masyarakat khususnya masyarakat ekonomi bawah mampu dengan mudah membeli/mengonsumsi telur ayam sehingga tingkat penderita stunting di Indonesia bisa ditekan, sebab stunting tidak hanya ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, tetapi juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal ini dikarenakan anak stunted, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang mana tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.

Penulis : Asrif'ah
No.Hp : 087888606591
Sumber : Outlook telur 2018 (Kementan RI), BPS, Kemenkes RI
Gambar : Republika


 

Reponsive Ads