GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Produksi Daging Sapi Meningkat, Kok Impornya Juga Meningkat?

Daging sapi merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi di Indonesia. Beberapa dari kita berpikir bahwa daging merupakan salah satu makanan yang hanya bisa dikonsumsi oleh masyarakat golongan tertentu, sepert…

Daging sapi merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi di Indonesia. Beberapa dari kita berpikir bahwa daging merupakan salah satu makanan yang hanya bisa dikonsumsi oleh masyarakat golongan tertentu, seperti masyarakat dengan penghasilan yang di atas rata-rata.
Namun saat ini siapa pun bisa menikmati daging sapi dengan lebih mudah dan terjangkau seiring dengan kemunculan beberapa rumah makan atau restoran yang menyajikan berbagai olahan daging sapi. Maraknya resto yang menyajikan olahan daging sapi seperti rawon, sate, steak, rendang, bakso, maupun masakan lainnya membuat masyarakat Indonesia semakin tertarik untuk mengonsumsi daging sapi lebih banyak dari sebelumnya.
Daging merupakan sumber protein hewani yang dibutuhkan oleh tubuh. Data FOOD and Agriculture Organization (FAO) menyebutkan tingkat konsumsi protein hewani negara-negara tetangga seperti Malaysia yaitu sebanyak 30%, Thailand 24%, dan Philipina 21%. Sedangkan Indonesia hanya sekitar 8%, atau tertinggal jauh dibanding beberapa negara ASEAN lainnya. Padahal protein hewani merupakan sumber pangan yang sangat baik untuk masa pertumbuhan dan perkembangan anak-anak karena kandungan asam aminonya yang lengkap. Selain itu, anak-anak juga membutuhkan jumlah protein yang lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Daging sapi juga merupakan salah satu komoditas makanan yang paling disukai karena banyak mengandung zat besi, protein, dan nutrisi lainnya seperti vitamin B3, vitamin B6, vitamin B12, zinc, selenium, dan fosfor. Maka dari itu, konsumsi masyarakat Indonesia terhadap daging sapi perlu ditingkatkan.
Dalam lima tahun terakhir produksi daging sapi dalam negeri cenderung mengalami peningkatan. Akan tetapi, rata-rata pertumbuhan produksinya terbilang relatif stagnan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi daging sapi pada 2017 sebesar 532 ribu ton. Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah merupakan tiga provinsi penghasil daging sapi terbesar di Indonesia dengan share masing-masing sebesar 19 persen, 14 persen, dan 11 persen. Untuk kebutuhan daging sapi nasional sebesar 784 ribu ton per tahun.
Dari data susenas yang dikumpulkan oleh BPS diungkapkan bahwa konsumsi rata-rata daging sapi masyarakat Indonesia pada 2017  sebesar 3kg/kapita/tahun. Hasil proyeksi BPS menyatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada 2017 adalah 261,36 juta jiwa. Jika dikalikan, maka kebutuhan daging sapi nasional pada 2017 mencapai 784 ribu ton. Sementara itu, produksi daging sapi pada 2017 diperkirakan sebesar 532 ribu ton.
Meskipun produksi cenderung mangalami peningkatan setiap tahunnya, kapasitas produksi tersebut belum cukup untunk mengimbangi konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia yang juga meningkat cukup signifikan. Oleh karena itu, untuk mencukupi kebutuhan daging sapi tersebut diperlukan tambahan suplai daging sapi dengan melakukan impor.
Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2017 Indonesia mengimpor daging sapi sekitar 160 ribu ton. Sebesar 53 persen daging sapi impor tersebut berasal dari Australia. Negara lain yang turut mengimpor daging sapi adalah Amerika Serikat dan Selandia Baru dengan share masing-masing sebesar 9 persen, serta Jepang, Malaysia, dan Singapura dengan share kurang dari 1 persen. Sedangkan pada tahun 2018, impor daging sapi mengalami peningkatan cukup besar yakni 207.427 ton atau meningkat sebesar 29,48% dari tahun sebelumnya.
Bila kita lihat, produksi daging sapi terus mengalami peningkatan, namun impor daging sapi juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini dikarenakan pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia yang meningkat. Pertumbuhan penduduk ini tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan pangan sehingga mempeharuhi kebijakan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pangan dengan cara impor daging sapi.
Selain pertumbuhan penduduk, impor daging sapi juga dipengaruhi oleh permintaan akan kebutuhan daging sapi yang juga meningkat. Meskipun sumber protein hewani sangat beragam, namun permintaan akan daging sapi lah yang paling tinggi karena rasanya yang lezat serta maraknya restoran yang menyajikan daging sapi dengan berbagai macam olahan, shingga pemerintah harus mengambil kebijakan dengan cara impor daging sapi.
Pemerintah selain menetapkan kebijakan impor daging sapi, juga memperhatikan produksi dan permintaan daging sapi masyarakat Indonesia agar kebijakan yang diterapkan dapat menguntungkan untuk jangka panjang, maksdnya bagi para peternak lokal. Karena bila terus bergantung dengan impor sebagai solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan daging sapi serta menekan harga di pasaran, dalam jangka panjang akan melemahkan daya saing peternak lokal.
Penulis : Junilla Ajeng Pawestri
Sumber : Badan Pusat Statistik, FOOD and Agriculture Organization (FAO)