Cerdas menghadapi Revolusi Industri 4.0 - Warta 24 Indonesia
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Cerdas menghadapi Revolusi Industri 4.0

Menurut At koerney [perusahan global konsultasi manajemen Amerika] yang dilansir oleh CNN Indonesia tertinggal dari Singapura, malaysia, dan thailand dari segi perindustrian. Semua diakibatkan dari penurunan industri . Dari 40% …


Menurut At koerney [perusahan global konsultasi manajemen Amerika] yang dilansir oleh CNN Indonesia tertinggal dari Singapura, malaysia, dan thailand dari segi perindustrian. Semua diakibatkan dari penurunan industri . Dari 40% ke 20%.

Berikut faktor lain yang mengakibatkan penurunan industri dari sumber yang sama :

1. Minim Kontribusi konsumsi rumah tangga/ pdb
2. Dana pengembangan teknologi
3. Kualitas transportasi dan infrastruktur
4. Sektor pendidikan

Indonesia hari ini sedang dihadapkan dengan Bonus demografi 2020-2030, artinya usia produktif Indonesia lebih banyak. Diprediksikan saat Industri 4.0. Posisi ekonomi Indonesia ke 7. Sekarang ke16 dengan cara meningkatkan perekonomian kita secara pesat. Klo gagal kata bapenas jadi bencana.

Revolusi Industri 4.0 artinya 4x revolusi industri/ revolusi industri yang ke empat, berikut susunannya :

1. 1784. Mesin uap
2. 1870. Listrik dan Bbm
3. 1969. Komputer dan Mesin otomatis
4. 2011. Kecerdasan buatan dan integrasi internet

Atau istilahnya Internet of things and artificial intelligence. Pekerjaan repetitif seperti akuntan. Supir, resepsionis, dst terancam hilang. [Proyeksi] mckinsey company

Saat ini sangat potensial dibutuhkan skill Bahasa komputer/ coding. Sektor industri yang siap dengan 4.0 adalah Food, otomotif, textil, kimia, elektronik [Kementerian perindustrian RI]

Revolusi Industri 4.0 akan menghilangkan profesi tertentu, tapi akan melahirkan juga profesi baru. indef mengatakan ketika perancis dihadapkan dengan internet, perancis berhasil membuka lapangan pekerjaan sebanyak 800.000.

Jadi, apakah Anda siap menghadapi revolusi 4.0?

Mau Beasiswa? yu cek disini

Penulis : Muhammad Raihan
Gambar : kementerian perindustrian RI
Sumber : Raihan