Page Nav

HIDE

Gradient Skin

Gradient_Skin

Pages

Responsive Ad

Pak Jokowi - Kartu Peternak Pintarnya Mana?

Warta24-- Baru-baru ini Presiden Jokowi yang sekaligus merupakan Capres dalam pemilu Presiden 2019 mengeluarkan program Kartu dalam pemeri...

Warta24--Baru-baru ini Presiden Jokowi yang sekaligus merupakan Capres dalam pemilu Presiden 2019 mengeluarkan program Kartu dalam pemerintahannya ke depan, yakni kartu Indonesia Pintar untuk kuliah, kartu Pra Kerja untuk untuk mereka yang belum mendapatkan kerja dalam usia produktif dan yang terakhir adalah kartu Sembako dengan tujuan masyarakat dapat membeli barang sembako murah dengan kartu tersebut.

Sesungguhnya perlu kita apresiasi concern Presiden dalam ide pengeluaran ketiga kartu tersebuttentu karena kebutuhan rakyat, akan tetapi sebagai pelaku industri peternakan tampaknya saya rasanya perlu berpendapat harusnya ada kartu yang Jokowi lupa dan ini sangat fundamental, yakni Kartu Peternak Pintar(KPP).

Harun Rasyid (Wakil Ketua Komite Tetap bidang Industri Peternakan&Kemitraan KADIN)

Sebelum kita bicara tentang apa itu Kartu Peternak Pintar dan apa urgensinya, tentu
kita harus tahu sebelumnya tentang berapa populasi sapi, domba dan kerbau di
Indonesia serta hubungan import daging sapi dengan populasi ketiga ruminansia
tersebut di Indonesia. Berdasarkan keterangan Kementrian Pertanian agustus 2018 populasi sapi di Indonesia adalah 16,8 juta ekor sapi yang tersebar di Pulau Jawa
sebanyak 8juta ekor atau hampir 50% lebih, Bali dan Nusa Tenggara hampir 2juta lebih
atau 15%, sisanya di Sulawesi sekitar 12-13%, dengan kosentrasi terbanyak sapi potong terdapat di Jatim sebanyak 5 juta ekor lebih atau hampir 32% dan Jateng sebanyak 2 juta ekor atau 16% populasi sapi potong Indonesia, sementara untuk populasi domba dan kambing berdasarkan data Pemerintah yakni sekitar 35 juta ekor tersebar hampir di seluruh Indonesia dengan konsentrasi di Pulau Jawa.

Yang jadi pertanyaan dengan konsumsi daging sapi nasional saja di tahun 2018
mencapai 663 ribu ton (KataData.Id-19Feb2018) dengan hanya 60% dicukupi oleh sapi lokal kita, dan tentu saja data ini juga masih bisa kita perdebatkan kebenarannya, yang sesungguhnya menjadi pertanyaan adalah, dengan kebutuhan sebanyak itu berapa sebenarnya jumlah sapi yang dibutuhkan? kalau saja kebut 663ribu ton itu dengan konversi sapi lokal kita ternyata hanya dibutuhkan sekitar 3.5 juta ekor sapi saja( asumsi 1ekor=200kg), tentu ini masih sedikit dibanding populasi sapi indonesia yang ‘katanya’ 16.8 juta ekor. Yang memang harus dipahami angka 16.8 juta ekor itu adalah gabungan sapi indukan produktif, sapi perah, sapi anakan, dan baru yang terakhir sapi potong,
mungkin baru kita tersenyum dalam hati sekaligus baru memahami ternyata sapi kita populasinya jauh dari dikatakan cukup.

Lalu kalau sudah begini apa solusinya bagi peternakan kita? Apa hubungannya
dengan jumlah domba dan kambing? Dan apa hubungannya dengan Kartu Peternak
Pintar itu? Yang pertama harus ada usaha dan dimulai campaign pergesaran konsumsi protein hewani dari hanya daging sapi menjadi daging domba ataupun kambing, ketakutan bahwa makan daging doka menaikan kolestrol harus dirubah. Toh faktanya tingkat kolestrol Doka jauh lebih rendah dari daging sapi kerbau dan ayam sekalipun.

Kampanye perubahan konsumsi ini harus dimulai dari sekarang dengan penambahan populasi DOKA indonesia juga. Bagaimana negara lain termasuk malaysia, brunei dan
negara timur tengah mengkonsumsi DOKA yang sangat tinggi perlu menjadi rujukan
kita dalam melakukan kampanye tersebut. Selanjutnya persoalan sapi adalah
dikarenakan dengan kebutuhan konsumsi protein hewani yang begitu besar tentu saja Indonesia merupakan pasar yang sangat menggiurkan bagi negara eksportir daging dari Australia,new zealand, India maupun Brazil ditambah lagi mengingat kondisi
peternakan sapi lokal yang belum mencukupi kebutuhan kita, kalaupun demi alasan nasionalisme importasi daging ini ditutup maka yang menjadi korban adalah konsumen mendapatkan harga yang melejit sehingga importasi masih diperlukan dalam rangka stabilisasi harga di pasar dengan tentu saja sambil membangun dan meningkatkan
populasi protein hewani dalam hal ini sapi potong kita untuk meningkatkan swasembada daging sapi kita.

Hal ini sebetulnya dipahami di Pemerintahan Jokowi dengan menggagas program-program, dan salah satunya Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB) di tahun 2016 untuk mengejar jumlah populasi tersebut, ini bisa dikatakan menjadi faktor utama penambahan populasi sekitar 4juta ekor yang awalnya di tahun 2013 sbesar hanya 12juta ekor menjadi hampir 16juta ekor di tahun 2017. Berhasilkah program ini? Ternyata belum bisa dikatakan 100% berhasil, hal ini dikarenakan banyak peternak yang tetap menjual sapi indukan produktif karena berbagai alasan untuk keperluan hidup, sehingga sapi yang sudah di-inseminasi dan bunting tetap mereka jual juga.Karena dengan waktu bunting untuk domba sekitar 5 bulan dan sapi sekitar 9 bulan tentu untuk peternak itu sendiri sangat tidak menguntungkan sementara mereka terus harus memberi makan dengan biaya yang harus dikeluarkan juga, adanya program
Siwab harus dibarengi dengan adanya insentif bagi peternak yang menjaga sapi indukan tersebut hingga beranak sampai mencapai titik berhentinya usia produktif sapi indukan tersebut. Hal ini pernah penulis sampaikan ketika audiensi selepas kongres peternak rakyat di DPR dengan komisi IV di tahun 2016, tapi jawabannya sedikit mengecewakan dengan dalih tidak adanya biaya untuk program tersebut, tetapi dengan 3 kartu yang baru akan dikeluarkan Jokowi seharusnya tidak sulit bagi Presiden mengeluarkan Kartu
Peternak Pintar tersebut.

Kartu peternak pintar memberikan insentif bagi peternak yang memelihara indukan
bunting sebesar 300ribu/ekor/bulan, tentu angka ini hanya asumsi saja, akan tetapi
dengan adanya insntif seperti diatas saya yakin jumlah domba,kambing,kerbau dan sapi akan meningkat luar biasa. Tidak ada lagi sapi indukan yang dipotong di Rumah potong hewan, tidak perlu ada ancaman pidana bagi peternak yang memotong sapi indukan miliknya sendiri karena peternak merasa nyaman dengan insentif tersebut dan kita bisa bayangkan 8juta sapi indukan itu serentak beranak di 9 bulan berikutnya ada berapa juta ekor penambahan populasi sapi di Indonesia? Dengan domba betina hampir 15juta ekor, tidak terbayang apabila KPP ini dilakukan, ditambah di tahun 2018 domba kambing kita juga sudah mampu menembus pasar eksport dan sudah menuju industri peternakan hal yang harus sangat disyukuri sekaligus pelecut penambahan populasi harus segera dilakukan demi meningkatkan ekonomi peternak Indonesia.

Dengan kartu peternak pintar saya yakin dalam waktu 5tahun dari sekarang saja
Indonesia bisa swasembada sapi potong, dan peningkatan sumber protein hewani dari ruminansia lainnya, dan tentu saja keberpihakan pak Jokowi terhadap peternak dalam hal ini makin jelas terlihat. Pak Jokowi, Ketika PETERNAK
SEJAHTERA, INDONESIA JAYA Bapak Presiden Kami. Terima kasih.

Kuliah disini aja

Nama Penulis : Harun Rasyid
Gambar : Zaenuddin Arsyad
Sumber : Zaenuddin Arsyad

Reponsive Ads